Wacana Satukan Partai Islam Lewat Masyumi Reborn, Ini Kata Pengamat

Read Time:1 Minute, 51 Second

OBSERVER – Wacana untuk menghidupkan kembali kejayaan partai Masyumi sebagai upaya mewujudkan gagasan partai Islam tunggal merupakan hak konstitusional dan hak politik warga negara untuk berserikat dan berkumpul. Gagasan tersebut sangat ideal dan menjanjikan sebuah harapan.

Gagasan “Masyumi Reborn” nampaknya dilatarbelakangi oleh kejayaan masa lalu, dimana Partai Masyumi pernah menjadi partai terbesar kedua setelah Partai Nasional Indonesia (PNI) pada pemilu 1955.

“Namun untuk mewujudkan kejayaan Masyumi di masa kini tentu tidak mudah. Apalagi menjadikan Partai Masyumi sebagai satu-satunya partai Islam, akan menghadapi berbagai tantangan berat, terutama menghadapi sindrom tumbuhnya partai politik di tengah euforia demokrasi yang membuka ruang bagi siapapun termasuk tokoh-tokoh islam untuk mendirikan partai politik,” ujar Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute, Karyono Wibowo kepada Observer, Jum’at (06/03/20).

Karena itu, kata Karyono, upaya untuk mewujudkan Partai Masyumi sebagai wadah tunggal umat Islam diperlukan kerja keras dan waktu yang sangat panjang untuk menyatukan visi, kesamaan pandangan, dan satu kesamaan kepentingan umat islam. “Gagasan tersebut bisa diakselerasi jika ada momentum yang dapat membuat tokoh dan pemimpin umat Islam bersatu. Tapi sekali lagi, langkah tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan,” ujarnya.

Karyono mengatakan, mengembalikan kejayaan Masyumi di masa lalu tidak bisa hanya dengan cara “copy paste”. Pasalnya, zaman sudah berubah, dinamika politik sudah berubah, cara pandang masyarakat telah mengalami pergeseran.

Menurut Karyono, di tengah liberalisasi dan perkembangan teknologi saat ini telah menjadi tantangan tersendiri bagi sebuah partai yang hanya “menjual” ideologi. Meski terkesan berlebihan, ramalan Daniel Bell dalam bukunya “The end of Ideologies” patut menjadi bahan renungan.

Baca Juga :   Nasdem Resmi Deklarasikan Pencalonan Ridwan Kamil Sebagai Cagub Jabar

Karyono berpendapat bahwa ideologi politik semakin tidak relevan di antara orang-orang “masuk akal”, dan bahwa pemerintahan masa depan akan didorong oleh penyesuaian teknologi sedikit demi sedikit dari sistem yang ada. Meski ramalan Daniel tidak seluruhnya menjadi kenyataan tetapi bisa menjadi bahan evaluasi bagi partai politik masa kini yang masih mengabadikan ideologi masa lalu agar tetap eksis dalam menghadapi tantangan saat ini dan akan datang.

Terkait wacana “Masyumi Reborn” atau menghadirkan kembali Partai Masyumi, kata Karyono, sejatinya bukan hal baru. Pada pemilihan umum tahun 1999 sudah ada partai yang menggunakan nama Masyumi Baru.

“Partai ini gagal memperoleh kursi di parlemen karena hanya mendapatkan suara sebanyak 152.589 suara atau 0,14%. Partai ini sama sekali tidak mendapatkan kursi di DPR,” pungkasnya. []

0 0
Archandra Setiawan

About Post Author

Archandra Setiawan

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari."
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Next Post

Dr. H. M. Syarifuddin, Sh., Mh., Resmi Terpilih Menjadi Ketua MA RI Periode 2020-2025

Observer Jakarta – Sebuah hasil survei dirilis oleh Lembaga Riset dan Investigasi RIDMA Foundation untuk sosok Ketua Mahkamah Agung RI yang baru. Adapun riset ini dilakukan dengan ragam pertanyaan, untuk mengetahui sejauh mana yang bersangkutan di mata masyarakat umum. Pertanyaan dilempar ke responden komunitas juga lewat lembaran pertanyaan by whatsapps ke […]
Dr. H. M. Syarifuddin, Sh., Mh

Subscribe