Transformasi Asia Barat, 7 November 2020

Transformasi di Asia Barat selama sepekan terakhir diwarnai berbagai isu penting seperti, peringatan kelompok advokat tentang kondisi tahanan Palestina, dan Suriah membebaskan puluhan anasir bersenjata dari penjara.

Isu hangat lainnya dari wilayah Asia Barat mengenai kendala pembentukan pemerintahan baru di Lebanon, dan terakhir ketakutan negara-negara Arab Teluk Persia jika Trump kalah dalam pilpres Amerika.

Kelompok Advokasi Peringatkan Kondisi Tahanan Palestina

Sebuah kelompok yang mengadvokasi hak-hak tahanan Palestina menyuarakan keprihatinan serius tentang kondisi kesehatan seorang tahanan Palestina yang telah melakukan mogok makan selama lebih dari tiga bulan sejak dia ditangkap oleh pasukan rezim Zionis Israel.

Pekan lalu, Kepala Otoritas Urusan Tahanan Palestina Qadri Abu Bakar, mengatakan, Maher al-Akhras secara bertahap kehilangan kemampuan penglihatan dan pendengarannya dan menjadi tidak dapat berbicara di samping bahaya lain yang mengancam organ vitalnya.

Dia menambahkan, hampir 100 hari setelah mogok makan tahanan Palestina ini, otoritas Israel masih menolak untuk membebaskannya dan bersikeras bahwa al-Akhras harus menyelesaikan penahanan administratifnya saat ini. Qadri Abu Bakr menekankan bahwa al-Akhras telah bersumpah untuk tidak mengakhiri mogok makan kecuali segera dibebaskan atau dipindahkan ke rumah sakit Palestina di Tepi Barat.

Maher al-Akhras.

Al-Akhras, 49 tahun, ayah dari enam anak ini, ditangkap secara ilegal pada 27 Juli 2020 dan ditahan di bawah perintah penahanan administratif, tanpa dakwaan. Hal ini menyebabkan dia melakukan mogok makan untuk mencari keadilan.

Dokter telah memperingatkan kerusakan pada beberapa organ tubuh tahanan Palestina tersebut seperti pada ginjal, hati, dan jantung. Menutur dokter, indera pendengaran dan berbicara al-Akhras juga telah terpengaruh oleh dampak dari mogok makan tersebut. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Uni Eropa telah menyerukan pembebasan segera al-Akhras.

Baca Juga:   Dampak Resesi Ekonomi di Indonesia bagi Masyarakat

Sementara itu, militer rezim Zionis dilaporkan kembali menangkap 24 warga Palestina. Organisasi Klub Tahanan Palestina (PPC) pada hari Rabu (5/11/2020) menyatakan, militer Israel menangkap 24 warga Palestina di berbagai wilayah Baitul Maqdis dan Tepi Barat.

Sekitar 4.800 tawanan Palestina termasuk 41 perempuan dan 140 anak-anak mendekam di penjara-penjara Israel di mana dari jumlah tersebut sekitar 340 orang belum diadili dan berstatus tahanan sementara.

Suriah Bebaskan 62 Tahanan Anasir Bersenjata

Pemerintah Suriah dilaporkan membebaskan 62 tahanan kriminal dan anasir bersenjata yang terlibat di perang negara ini dengan teroris. Berdasarkan grasi Presiden Bashar al-Assad, pejabat yang bertanggung jawab di Provinsi Daraa membebaskan 62 orang yang ditahan atas dakwaan kejahatan bersenjata dan melakukan penyerangan bersenjata selama perang di Suriah.

Grasi presiden Suriah dimaksdukan untuk menyempurnakan proses pembebasan para tahanan selama beberapa bulan lalu dan dalam konteks rekonsiliasi nasional.

Warga dan pejabat Provinsi Daraa memuji pemerintah Suriah dalam membebaskan para tahanan dan juga dilanjutkannya upaya menyelesaikan berkas seluruh tahanan.

Sementara itu, koalisi internasional pimpinan AS dan tentara bayaran yang berafiliasi dengan mereka, telah menculik 10 warga sipil di desa-desa di kota Deir Ezzor dan Hasakah.

Kantor berita resmi Suriah (SANA) melaporkan, pasukan AS dengan dukungan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) melakukan serangan ke daerah al-Sabha di timur Deir Ezzor dan menculik tujuh warga sipil Suriah. Di Hasakah, sekelompok milisi SDF mendatangi sejumlah rumah dan menculik tiga pemuda dari daerah Tal Tamer di bagian utara kota tersebut.

Penduduk di timur dan timur laut Suriah berulang kali memprotes kehadiran ilegal pasukan Amerika dan milisi afiliasinya di Suriah. Mereka meminta tentara Suriah kembali ke wilayah tersebut dan mendesak penarikan pasukan AS.

Baca Juga:   Muqawama, Jalan Tunggal Membebaskan Al-Quds
Saad al-Hariri.

Jalan Terjal Pembentukan Pemerintahan Baru Lebanon

Saad al-Hariri kembali menunda pengumuman susunan kabinet baru Lebanon yang menimbulkan pertanyaan besar dari rakyatnya dan publik regional. Tampaknya ada dua alasan utama penudaaan ini yang berkaitan dengan goyahnya posisi politik al-Hariri dan usulan formalnya untuk pembentukan kabinet baru Lebanon.

Hariri ditunjuk membentuk kabinet untuk ketiga kalinya dalam empat tahun terakhir. Perbedaan antara tahap ini dan dua tahap sebelumnya pada 2016 dan 2018, mengenai posisi Hariri yang hanya memenangkan lebih sedikit suara pada tahap ini dengan meraih 65 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk kabinet.

Majalah Foreign Policy menulis, “Bukankah masalah Lebanon dan situasi di negara ini yang menyebabkan al-Hariri mengundurkan diri. Lalu mengapa dia kembali mengisi jabatan itu?” Faktanya, alasan meningkatnya oposisi terhadap Al-Hariri karena dia sebelumnya telah menjabat sebagai Perdana Menteri Lebanon dan mengundurkan diri karena protes rakyat meningkat.

Alasan lain terlambatnya pembentukan kabinet Hariri berhubungan dengan usulannya sendiri. Ketua gerakan Al-Mustaqbal ini menekankan pembentukan kabinet non-politik dan teknokrat. Usulan Hariri mendapat tentangan serius. Pasalnya, di satu sisi, Hariri bukanlah teknokrat melainkan politisi murni. Di sisi lain, beberapa arus politik Lebanon, terutama Gerakan Patriotik Merdeka yang dipimpin oleh Gebran Bassil berkeras mengusulkan pembentukan kabinet kombinasi politisi-teknokrat.

Donald Trump.

Koran Israel: Negara Arab Teluk Persia Sangat Takut Trump Kalah

Beberapa pejabat Uni Emirat Arab dan Bahrain kepada salah satu surat kabar rezim Zionis Israel mengatakan, negara-negara Arab pesisir Teluk Persia sudah mengeluarkan dana besar untuk kampanye pemilu Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Fars News (4/11/2020) melaporkan, pejabat UEA dan Bahrain kepada surat kabar Israel Hayom menuturkan, kampanye pemilu Trump menggunakan jutaan dolar bantuan negara-negara Arab pesisir Teluk Persia.

Baca Juga:   Iran Aktualita 24 Oktober 2020

Seperti ditulis Al Quds Al Arabi, surat kabar Israel itu mengutip pejabat tinggi UEA menulis, kami mengamati dengan cemas pemilu presiden Amerika, dan berharap Trump menang, namun pada saat yang sama kami juga siap jika ada orang baru masuk ke Gedung Putih.

Pejabat Bahrain dan UEA lainnya kepada koran Israel menjelaskan, negara-negara Arab pesisir Teluk Persia secara langsung memberikan bantuan dana kepada tim kampanye Trump, dan berusaha mendorong warga Muslim Amerika untuk memilih Trump, walau ia tidak disukai oleh mereka.

Menurut Israel Hayom, pejabat tinggi Bahrain mengatakan, negara-negara yang berdamai dengan Israel mencemaskan kekalahan Trump, dan keputusan Joe Biden mengubah kebijakan Amerika di Asia Barat. (RM)

close