Startup Indonesia Sabet Juara Satu di Hannover Messe 2021



Observer – Perjuangan Bayu Nugroho akhirnya membuahkan hasil. Setelah tiga tahun berjuang menolong petani akhirnya Bayu berhasil menjadi pemenang pertama Hermes Award kategori Startup pada tahun 2020. Dimenangkan tahun 2020, namun pemberian piala dan hadiah diberikan pada seremoni pembukaan Hannover Messe 2021.

Hannover Messe 2021 digelar 12-16 April 2021 secara virtual. Dalam ajang ini, Indonesia tampil dalam platform digital expo, conference, dan networking. Kontribusi eksibitor terbesar berasal dari 65 perusahaan besar, 63 perusahaan startup, 14 BUMN, 8 kawasan industri, 4 kementerian dan lembaga, serta dua asosiasi industri.

Serangkaian kegiatan yang meliputi digitalisasi presentasi produk, konferensi dengan beragam tema, hingga business matchmaking berbasis perangkat lunak diharapkan mampu menciptakan peluang nvestasi, kerja sama industri dan kesepakatan bisnis.

Salah satu agenda ajang ini adalah Hermes Award. Ini merupakan kompetisi yang terbuka bagi seluruh perusahaan yang menjadi exhibitor dalam Hannover Messe. Untuk pertama kalinya Hannover Messe menggelar Hermes Startup Award bagi perusahaan dengan usia di bawah 5 tahun. Kategori penilaian di antaranya tingkat inovasi teknologi, dampak bagi sektor industri, ekonomi dan masyarakat.

Dalam ajang ini, Dewan Juri yang diketuai Reimund Neugebauer, Presiden Pusat Penelitian Frauenhofer-Gesellschaft memilih startup PT. Mitra Sejahtera Membangun Bangsa (MSMB) asal Indonesia, yang memiliki konsep Smart Farming 4.0, sebagai pemenang pertama Hermes Award kategori Startup pada tahun 2020.

Atas kemenangannya itu, Bayu dan tim berhak mendapat tropi maupun hadiah uang senilai kurang lebih 10.000 euro.

Menurut Neugebauer, startup adalah pemicu inovasi yang sebenarnya, sebagai jembatan antara riset dan industri, startup dengan cepat mengubah penemuan dan teknolgi baru lalu membawanya ke pasar,” terangnya.

Ia mengaku senang bisa mengetahui MSMB, sebuah perusahaan yang menggunakan solusi AI untuk mengatasi beragam permasalahan, termasuk keamanan pangan hingga efisiensi penggunakan pupuk dan sumber daya lainnya.

Sejak resmi menjadi startup pada tahun 2018, MSMB langsung menang di ajang startup core dari Kementerian Perindustrian. MSMB pun diikutsertakan dalam berbagai lomba dan award di seluruh dunia.

Hermes Award bukanlah penghargaan dunia pertama yang diterima Bayu dan tim. Pada ajang Asia Smart App Awards yang digelar di Hong Kong, 2019, aplikasi yang dinamai RiTx Bertani ini berhasil meraih “Certificate of Merit”.

Awal Pengembangan Aplikasi

Sejak tahun 1980, banyak petani mengalami gagal tanam, gagal panen, serta penurunan produktivitas lahan. Pada tahun itu, perubahan iklim mulai terasa dampaknya.

Baca Juga:   Nilai Transaksi E-Commerce Indonesia Tembus Rp465,7 Triliun Pada 2020

Selidik punya selidik, ternyata masalah utamanya adalah informasi terhadap cuaca yang tidak sampai menyentuh level desa, terutama para pengelola lahan.

Infomasi utama selalu didapatkan dari BMKG dan beberapa aplikasi cuaca. Informasi ini pun hanya sampai pada level kecamatan. Padahal, menurut dosen Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini, dengan jarak 2 hingga 3 kilometer saja, cuaca bisa berbeda.

Dari situ Bayu memutar otak untuk bisa membantu petani. Sebab, banyak petani saat ini belum mengerti tentang perubahan iklim. Contohnya, bila petani ditanya tentang musim hujan yang berkepanjangan, mereka selalu berpendapat hal itu adalah hal yang biasa. Atau paling banter mereka akan bilang itu salah musim.

Akhirnya Bayu dan timnya merancang teknologi sensor untuk cuaca dan tanah pada 2018. Sensor yang mengambil data real time ini berperan sebagai alat pengumpul data, mulai dari data cuaca, hujan, suhu, kelembaban, kekuatan angin dan arah mata angin.

Dari data tersebut, Bayu mengembangkan algoritma yang dapat membantu menerjemahkan data menjadi informasi yang mudah dipahami oleh petani. “Hasil algoritma tadi dikaitkan dengan pertumbuhan komoditas yang sedang ditanam oleh petani,” kata lulusan Universitas Iwate, Jepang itu.

Informasi yang sudah terkumpul itu awalnya dikirim kepada ketua kelompok petani dengan menggunakan pesan singkat SMS. Ternyata informasi tersebut sangat bermanfaat untuk menghindari gagal tanam dan gagal panen, sehingga produktivitas pertanian pun meningkat.

“Dari 8 ton padi per hektare menjadi 12 ton per hektare,” kata pendiri startup PT. Mitra Sejahtera Membangun Bangsa (MSMB) itu.

Pada tahun 2018 itu juga Bayu akhirnya membuat startup dan mengembangkan aplikasi untuk gawai pintar. Ada dua sensor yang ia ciptakan. Pertama, sensor cuaca dan tanah. Sebelum memasang sensor ini, Bayu dan timnya mengumpulkan data yang mencakup kebiasaan petani setempat, jenis pupuk yang digunakan, jumlah dosis yang diberikan, serta waktu pemupukan. Semua data dimasukan dalam variabel, yang nantinya akan menjadi bahan rekomendasi bagi petani.

Dengan sensor itu dapat diketahui berapa banyak lagi pupuk yang harus ditambahkan, sehingga petani hanya memberikan pupuk sesuai dengan kekurangannya. Bayu mengaku, mereka memberikan rekomendasi tergantung kearifan lokal daerah tersebut. Di beberapa kasus seperti lahan pertanian bawang merah, penggunaan pupuk bahkan dapat direduksi hingga 50 persen. Saat pupuk langka, teknologi ini bisa sangat menguntungkan para petani.

Sensor ciptaan Bayu ini dapat menangkap data dalam radius 100 hektare untuk lahan hamparan. Namun, untuk lahan bentuk teras atau bukit, sensor yang dibutuhkan lebih banyak. Pemasangan sensor pun harus melalui prosedur pemeriksaan jenis tanah, sehingga tidak bisa dipasang secara sembarangan.

Baca Juga:   Huawei Luncurkan Solusi FusionServer Pro V6 SAP HANA

Kedua, sensor debit air di saluran irigasi. “Sensor ini menghitung debit di saluran tersier yang masuk lahan itu berapa, kita cocokan dengan fase pertumbuhannya. Misalnya pada padi. Pada fase awal, membutuhkan banyak air, dan saat mendekati musim panen, sebaiknya tidak dialiri air karena akan mempengaruhi kualitas panen,” paparnya.

Teknologi sensor cuaca dan tanah ini membutuhkan dana sekitar Rp 30 juta. Dana sebesar itu sudah mencakup aplikasi, algoritma, rekomendasi, dan notifikasi. Harga ini lebih murah dibandingkan dengan sensor lain yang harganya mencapai seratus juta rupiah. Itu pun biasanya konsumen hanya mendapatkan data mentah.

Bayu mengklaim sensor ini dapat bertahan sekitar dua tahun. Tantangannya hanya pencurian atau dirusak anak-anak yang bermain di sawah.

Bayu menjelaskan RiTx Bertani merupakan aplikasi berbasis android yang digunakan petani untuk melakukan pencatatan kegiatan bertani. Pencatatan kegiatan bertani ini penting untuk memastikan petani menerapkan Good Agricultural Practices (GAP).

GAP sendiri merupakan praktik budi daya tanaman yang baik, benar dan tepat mulai dari persiapan sebelum masa tanam hingga penanganan produk pascapanen. Penerapan GAP, memastikan prinsip telusur-balik (traceability) terhadap produk hasil panen dapat tercapai. Hal ini menjamin keamanan produk hasil panen tersebut untuk dikonsumsi.

Berbasis Internet of Things (IoT), RiTx Bertani juga terintegrasi dengan teknologi sensor tanah dan cuaca yang terpasang di lahan.

Melalui data yang terekam, kata Bayu, petani akan langsung mendapatkan rekomendasi kegiatan bertani yang lebih presisi melalui aplikasi. Ketidaktahuan petani akan pentingnya menjaga kelestarian jangka panjang, kata dia, menjadi salah satu persoalan krusial di sektor pertanian. Petani sering kali menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan dalam kegiatan bertani.

“Dengan pertanian cerdas seperti ini tentunya tak hanya membantu petani, namun juga memastikan kegiatan petani di lahan tidak merusak lingkungan,” jelasnya.

Tak hanya itu, jika muncul gejala serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) di lahan, petani juga bisa langsung berkonsultasi dengan ahli pertanian menggunakan aplikasi RiTx Bertani ini.

Aplikasi ini turut dilengkapi dengan chatbot pertanian dan smart speaker. Pengembangan aplikasi ini juga didukung empat kementerian, yaitu Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Kementerian Komunikasi dan Informasi, serta Kementerian Desa dan PDT.

Baca Juga:   PA GMNI Dorong Teknologi dan Pendidikan Berbasis Pancasila

Saat ini sudah ada 115 sensor yang dipasang di berbagai lahan di seluruh indonesia. Sensor terjauh dipasang di Manokwari, Papua untuk tanaman padi. “Sensor ini untuk semua komoditas, dapat diset untuk komoditas apa saja, yang berpengaruh pada hasil rekomendasinya. Survei, sosialisasi dan rekomendasi itu sangat penting,” ujar doktor di bidang agro klimatologi dan perubahan iklim tersebut.

Komoditas yang menggunakan sensor ini mencakup padi, jagung, bawang merah, kopi dari Sumatra Utara, temu lawak dari Sukabumi, cabai, dan kedelai.

Petani Milenial

Menurut Bayu, MSMB dibantu oleh sekitar 50 hingga 60 pekerja. Dari 60an pekerja itu, 10 di antaranya adalah ahli di bidang sensor. Namun untuk mengadakan pelatihan bagi kelompok petani, MSMB bekerja sama dengan kementerian pertanian setempat. Dalam setiap pelatihan, Bayu selalu mensyaratkan dua hal, yakni petani wajib mengikutsertakan anggota keluarga seperti anak, cucu atau keponakan mereka.

Mengapa anak atau cucu dilibatkan? Bayu beralasan, petani sekarang kebanyakan berusia di atas 50 tahun.

“Mereka kebanyakan tidak update dengan teknologi smartphone. Pasti ada anggota keluarga yang mengerti penggunakaan internet yang terhubung dengan smartphone,” ujarnya.

Itu pula yang mendorongnya mengajukan syarat kedua, yakni melibatkan kelompok Karang Taruna setempat. Pelibatan Karang Taruna ini dilakukan karena Bayu punya misi yakni mengembangkan minat anak-anak muda untuk terjun ke dunia pertanian.

“Saya ingin menunjukkan pada mereka bahwa pertanian masa kini sudah menggunakan teknologi,” bebernya.

Di beberapa lokasi, banyak anak muda yang mulai terjun ke dunia pertanian meski mereka juga memiliki pekerjaan sampingan yaitu menjadi pengemudi ojek online.

“Di situlah app kami juga sering memberi pengingat atau reminder seperti besok cerah, baik untuk pemupukan lahan. Untuk itu, mereka istirahat sebagai pengemudi ojek untuk memupuk lahannya,” papar Bayu.

Sejauh ini, kata Bayu, MSMB tengah menjalankan sekitar 115 proyek pertanian di seluruh Indonesia yang melibatkan sekitar 15.000 petani. Petanu generasi tua, kata Bayu, selalu beranggapan mereka harus selalu berada di lahan, padahal tidak.

“Dengan teknologi aplikasi ini, generasi petani muda bisa membagi waktunya dengan lebih efektif,” pungkasnya.


Photo Credit: HANNOVER MESSE Digital Edition, 12 – 17 April 2021. GETTY/Metrology

 

Didik Fitrianto
Latest posts by Didik Fitrianto (see all)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *