Sanksi Baru Amerika terhadap Iran

Amerika Serikat – setelah meninggalkan perjanjian nuklir JCPOA pada Mei 2018 – memberlakukan sanksi besar-besaran terhadap Iran dalam konteks kebijakan tekanan maksimum dan terus mengumumkan sanksi baru dari masa ke masa.

Pemerintahan Trump menjatuhkan sanksi baru terhadap individu dan entitas yang terkait Iran pada 10 November 2020. Departemen Keuangan AS menyatakan bahwa pihaknya telah memasukkan sebuah jaringan yang memfasilitasi pengadaan barang sensitif untuk perusahaan militer Iran ke dalam daftar sanksi.

“Hari ini, Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri Departemen Keuangan AS menempatkan jaringan dari enam perusahaan dan empat individu yang memfasilitasi pengadaan barang sensitif, termasuk komponen elektronik asal Amerika, untuk Iran Communication Industries (ICI) ke dalam daftar sanksi,” kata pernyataan Depkeu AS.

Orang-orang yang terkena sanksi adalah warga negara Iran dan Taiwan. Pada dasarnya, AS telah lama menjatuhkan beragam sanksi terhadap perusahaan-perusahaan yang berafiliasi dengan Kementerian Pertahanan Iran dan industri pertahanan negara ini. Pengumuman 10 November lalu hanyalah cara untuk memperkuat sanksi-sanksi yang ada.

Sanksi terbaru menargetkan individu dan entitas yang diklaim Washington berafiliasi dengan Iran Communication Industries (ICI) yang berada di bawah Kementerian Pertahanan Iran. ICI dijatuhi sanksi oleh AS pada tahun 2008 dan oleh Uni Eropa pada 2010.

Pengumuman daftar sanksi baru oleh pemerintahan Trump sepertinya merupakan sebuah langkah propaganda untuk menegaskan bahwa kebijakan tekanan maksimum Washington terhadap Tehran masih berlanjut. Terlebih Donald Trump telah kalah dalam pemilu presiden AS dan masa pemerintahannya hanya tersisa dua bulan lagi.

Menurut para pejabat senior AS, Trump berniat mengumumkan serangkaian sanksi terhadap Iran selama periode itu, bahkan ada pembahasan tentang pengumuman satu sanksi per minggu.

Baca Juga:   Tragedi KRI Nanggala-402 Ungkap Realitas Menyakitkan dari Operasi Penyelamatan Internasional
Presiden Donald Trump.

Fokus utama Gedung Putih dalam beberapa bulan terakhir adalah berusaha memperpanjang embargo senjata terhadap Iran dan kemudian mengembalikan semua sanksi internasional terhadap Tehran. Namun kedua rencana itu telah gagal total. Meskipun adanya kegagalan, pemerintahan Trump terus mengumumkan sanksi baru dengan harapan mencapai tujuannya.

Laman berita Axios pada Minggu lalu melaporkan bahwa pemerintahan Trump berniat membanjiri Iran dengan sanksi baru menjelang berkuasanya pemerintahan baru AS, dengan tujuan mengurangi kemampuan pemerintahan Biden kembali ke perjanjian nuklir JCPOA.

Terlepas dari upaya tersebut, AS sekarang semakin terkucil dari sebelumnya, sementara Iran menjadi lebih kuat dari sebelumnya dengan mengadopsi kebijakan perlawanan maksimum.

Analis politik dari Oman, Haidar bin Ali al-Lawati menuturkan Amerika Serikat sekarang sangat lemah, sementara Iran sebagai sebuah kekuatan besar di kawasan, memiliki pengaruh yang cukup signifikan.

Selama 2,5 tahun terakhir, pemerintahan Trump melakukan segala upaya untuk melawan Iran dan sekarang mereka tidak memiliki instrumen baru untuk meningkatkan tekanan terhadap Tehran.

Para kritikus Trump di Amerika menuduhnya tidak memiliki strategi yang jelas dan efektif dalam berurusan dengan Iran, meningkatkan ketegangan yang tidak perlu, dan menjauhkan AS dari sekutunya, terutama setelah meninggalkan JCPOA. Presiden terpilih AS, Joe Biden sendiri mengakui bahwa AS sudah tidak lagi dihormati di dunia. (RM)

close