Lintasan Sejarah 27 Oktober 2020

Hari ini, Selasa 27 Oktober 2020 bertepatan dengan 10 Rabiul Awal 1442 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran tanggal 6 Aban 1399 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi hari ini.

Rasulullah Saw Menikah dengan Khadijah

1470 tahun yang lalu, tanggal 10 Rabiul Awal 28 tahun sebelum Hijrah, Muhammad Saw menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, seorang bangsawan kaya di kota Mekah.

Muhammad Saw menikah dengan Khadijah binti Khuwailid

Khadijah dikenal sebagai perempuan yang suci dan beriman sehingga dijuluki dengan nama Thahirah atau suci. Setelah Muhammad Saw diangkat Allah sebagai Rasul-Nya, Khadijah-lah perempuan pertama yang beriman kepada Islam. Setelah itu, seluruh beliau menyumbangkan seluruh hartanya demi penyebaran Islam.

Kesetiaan dan pengabdian Khadijah kepada Rasulullah sedemikian besarnya sehingga bertahun-tahun setelah Khadijah meninggal, Rasulullah masih terus mengenangnya dan menyebut-nyebut kebaikannya.

Imam Khomeini ra Tolak Rencana Fahd Soal Perdamaian Palestina-Israel

39 tahun yang lalu, tanggal 6 Aban 1360 HS, Imam Khomeini ra tolak rencana Raja Fahd soal perdamaian Palestina-Israel.

Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran dan setelah penandatanganan perjanjian damai Camp David antara pemerintah Mesir dan rezim Zionis Israel yang dimediasi Amerika, rezim-rezim yang menjual dirinya di Timur Tengah mulai mengikuti jejak Mesir untuk berdamai dengan Israel.

Imam Khomeini ra

Fahd bin Abdul Aziz yang waktu itu merupakan Pangeran Mahkota Arab Saudi pada tanggal 18 Mordad 1360 (9 Agustus 1981) mengusulkan sebuah rencana yang berisikan sejumlah poin; pertama, Israel harus mundur dari seluruh daerah yang didudukinya, termasuk Baitul Maqdis. Kedua, tidak adanya jaminan hak bagi warga Palestina yang ingin pulang, terutama pemberian ganti rugi atas kerugian yang dialami selama ini. Ketiga, jaminan hak bagi seluruh negara di Timur Tengah untuk hidup secara damai.

Baca Juga:   Pesan Rahbar Kepada Pemuda Prancis, Menyusul Penghinaan Macron kepada Nabi Muhammad Saw

Poin ketiga merupakan poin paling cerdik untuk mengakui secara resmi rezim Zionis Israel Hal ini pula yang membuat dunia Islam tidak mengakui rencana ini.

Imam  Khomeini ra saat mereaksi rencana ini pada tanggal 6 Aban 1360 Hs (28 Oktober 1981) dalam sebuah pidatonya mengatakan, “Wajib bagi kami dan setiap muslim menolak rencana-rencana seperti yang dilakukan oleh Anwar Sadat dan Fahd bin Abdul Aziz. Wajib bagi kita untuk mengecam setiap rencana yang tidak berpihak kepada orang-orang tertindas (mustadhafin). Hari ini, tidak ada yang lebih berbahaya dari perjanjian Camp David dan rencana Fahd yang memperkuat Israel dan kejahatannya. Ide-ide semacam ini membuat munculnya perpecahan dan membuka jalan bagi Israel.”

Sikap tegas Imam Khomeini ra menolak rencana Fahd dan dukungan umat Islam sedunia atas sikap Imam membuat banyak negara ikut menolak rencana ini.

Tahun-tahun selanjutnya terbukti betapa rezim Zionis Israel tidak pernah melaksanakan janjinya kepada bangsa Palestina dan tidak pernah mundur dari klaimnya selama ini. Begitu congkaknya Zionis Israel sehingga dalam sejumlah perjanjian dan pertemuan bersama dalam kerangka perdamaian Arab dan Israel, rezim Zionis Israel menyatakan satu-satunya solusi Palestina adalah membinasakan seluruh rakyatnya. Zionis Israel juga tidak mau menerima kembalinya warga Palestina yang hidup di luar negeri ke tanah airnya sendiri.

Kerusuhan Paris

15 tahun yang lalu, tanggal 27 Oktober 2005, kerusuhan hebat merebak di seluruh Perancis pasca kematian dua pemuda keturunan Afrika.

Kerusuhan di Paris (arsip)

Kedua remaja tewas tersengat listrik setelah lari dari kejaran polisi di daerah Clichy-sous-Bois. Kematian tersebut langsung memicu kemarahan kaum imigran Muslim dan Afrika di Perancis. Selama tiga minggu, 274 kota di seluruh wilayah Paris dan Perancis diguncang kerusuhan.

Baca Juga:   Rouhani: Akhir Embargo Senjata Iran, Kemenangan Logika dan Kebenaran atas Penindasan

Para demonstran yang didominasi anak muda keturunan Afrika Utara membakar hampir 9000 mobil, belasan bangunan, dan sekolah. Kerugian total akibat kerusuhan mencapai €200 juta. Sekitar 2.888 perusuh ditangkap, dan 126 polisi dan kru pemadam kebakaran terluka.

Kerusuhan ini merupakan puncak kemarahan keturunan imigran terhadap kebijakan pemerintah e. Selama bertahun-tahun, kelompok tersebut menerima diskriminasi sosial, ekonomi, dan ras.

Pada 8 November 2005, Presiden Chirac mengumumkan keadaan darurat di seluruh Perancis. Chirac juga memberlakukan UU tahun 1955 semasa Perang Aljazair, yang membolehkan pemberlakuan jam malam.

Pada 16 November, Parlemen memperpanjang kondisi darurat selama tiga bulan. Sehari kemudian, kondisi di Perancis berangsur-angsur normal kembali.

close