Lebaran Berbisik


SEBAGAI warga desa, untuk menuju ke kota, baik urusan kerja atau berjumpa kolega, penulis menumpang kereta rel listrik (KRL) commuter line. Biasanya dari Stasiun Cisauk, Kabupaten Tangerang, menuju Stasiun Palmerah, Kota Jakarta, atau sebaliknya.

Semenjak masa pandemi covid-19 melanda, penumpang KRL dilarang bicara, termasuk bicara menerima panggilan telepon. Namun, ada saja beberapa penumpang yang lupa atau sengaja menerima panggilan telepon. Alam pikir saya menebak, bisa jadi panggilan telepon yang penting, misalnya terkait ‘periuk nasi’ keluarganya. Nah, biar tidak ketahuan pihak keamanan KRL–yang kini seragamnya sudah berganti warna itu–ada penumpang KRL menjawab panggilan telepon dengan berbisik.

Sebetulnya, penulis pernah mengalami situasi yang sama. Suatu ketika, masih di bulan puasa masa pandemi ini, penulis spontan menjawab satu panggilan telepon. Saat itu penulis menerima panggilan telepon dari Bank Tabungan Negara (BTN), mengenai isi panggilan telepon itu tidak usahlah disampaikan di sini, karena juga perihal menimbang ‘periuk nasi’.

Soal sulitnya mencari ‘periuk nasi’, banyak dialami rakyat Indonesia yang terkena oleh dampak ekonomi masa pandemi ini. Jadi, ceritanya, di dalam KRL itulah penulis menemukan judul tulisan ini.

 

Berisik

Ya, kini ialah Ramadan dan Lebaran tahun kedua suasana pandemi. Bedanya, tahun lalu lebih sunyi–meminjam judul buku yang diterbitkan Jaringan Intelektual Berkemajuan (JIB), Puasa Sunyi Masa Pandemi (2020)–buku kumpulan tulisan dari para intelektual dan aktivis Muhammadiyah yang masih relevan sampai kini. Namun, seperti halnya tahun lalu, di jagat media, tak kenal Ramadan atau Lebaran, tak pernah berbisik, tapi tetap saja berisik.

Sejak tumbuhnya kesadaran masyarakat Indonesia ber-social media, poster digital dalam berbagai corak ucapan ‘Marhaban ya Ramadan’, atau ‘Selamat Idul Fitri’ berseliweran di media. Kata Ramadan dan Lebaran Idul Fitri selalu menjadi trending topic.

Kala awal puasa, muncul trending kata sahur, ngabuburit, gorengan, dan pernak-perniknya (foto hidangan buka, suasana buka bersama, dan lain sebagainya). Baik puasa masa pandemi covid-19 maupun sebelum pandemi, trending yang itu biasa adanya. Tak jarang pula trending-trending Ramadan itu bersamaan dengan trending topic nama-nama group musik Korea atau artis asal Korea. Tak luput pula, berisiknya tagar-tagar politis menyertai. Jika digeluti tiada henti, jadi ‘berisik’.

Baca Juga:   Gema Spirit Bon Setitit

Ya Ramadan tahun ini sejatinya kita tidak perlu berisik, tapi berbisik. Kita berbisik sujud memohon ampun kepada Allah atas segala keberisikan kita yang membuat orang-orang terluka dan bangsa merana. Berisik yang penuh hoaks, berisik memberi janji, tapi tidak ditunaikan dengan banyak alasan, dan berisik yang disertai motif saling meniadakan. Semoga Allah memaafkan dan mengampuni segala dosa kita.Namun, kalau berisik untuk kebaikan publik, dan menyelamatkan integritas dan martabat Republik, wajib.

Suasana Lebaran ini, ada kisah menarik tentang berbisik yang dapat kita petik hikmahnya. Diceritakanlah, merujuk pada buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an, dan Hadits-hadits Shahih karya M Quraish Shihab (2018), A Muchlishon Rochmat menulis di portal NU Online (2019), tentang bisikan Rasulullah kepada putrinya Fatimah menjelang Rasulullah wafat. Tatkala bisikan pertama, Fatimah menangis. Ketika bisikan kedua Fatimah tertawa. Apa yang dibisikkan Rasulullah kepada Fatimah saat itu?

Kala itu Fatimah tidak bersedia memberi tahu apa yang dibisikkan Rasulullah kepadanya. Setelah Rasulullah wafat, Aisyah istri Nabi Muhammad penasaran tentang bisikan Rasulullah itu. Ia lantas bertanya kepada Fatimah. Fatimah menjawab: “Malaikat Jibril setiap tahun bertadarus Alquran denganku sekali; pada tahun ini dua kali. Aku tidak melihat itu, kecuali ajalku telah dekat maka bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah. Aku ialah pendahulu terbaik untukmu,” kata Rasulullah.

Sebagaimana diceritakan Aisyah dalam hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim, bisikan pertama itu membuat Fatimah menangis tak kuat menahan air mata karena tahu ajal Rasulullah akan tiba. “Tidakkah engkau puas menjadi pemimpin perempuan-perempuan mukminah, atau perempuan-perempuan umat ini?” kata Rasulullah. Inilah bisikan yang kedua dari Rasulullah membuat Fatimah tertawa. Setelah Rasulullah wafat, sekitar tiga bulan setelah itu Fatimah meninggal. Dari beberapa riwayat mengatakan Fatimah wafat saat Ramadan. Selain Fatimah, Siti Khadijah, Aisyah, dan Ali bin Abi Thalib dikabarkan juga wafat waktu Ramadan.

Baca Juga:   Pogba dan Diallo Kibarkan Bendera Palestina di Old Trafford

Apa hikmah yang dapat kita bumikan dari kisah itu bila konteksnya saat ini? Bisikan pertama Rasulullah kepada Fatimah tentang malaikat Jibril bertadarus Alquran bersama Nabi Muhammad, pesan supaya bertakwa kepada Allah, serta pesan Rasulullah: “Aku ialah pendahulu terbaik untukmu.” Bisikan Rasulullah ini sepertinya bukan hanya ditujukan kepada Fatimah, melainkan juga pesan kepada kita.

Semoga setelah Lebaran, kita menjadi manusia yang terbaik dan makin berisik untuk kebaikan publik. Ya, meminjam istilah yang sering disematkan kepada Buya Syafii Maarif, menjadi Muazin Bangsa! Selamat Lebaran Idul Fitri. Maaf lahir dan batin.


$(function() { $(window).scroll(function() { if($(this).scrollTop()>400) { $('#Back-to-top').fadeIn(); }else { $('#Back-to-top').fadeOut();}}); $('#Back-to-top').click(function() { $('body,html') .animate({scrollTop:0},300) .animate({scrollTop:40},200) .animate({scrollTop:0},130) .animate({scrollTop:15},100) .animate({scrollTop:0},70); }); });

(function(d, s, id) { var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0]; if (d.getElementById(id)) return; js = d.createElement(s); js.id = id; js.src = "https://connect.facebook.net/en_GB/sdk.js#xfbml=1&version=v2.0"; fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs); } (document, 'script', 'facebook-jssdk'));

});





Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RUBRIK