Idul Fitri, Kenaikan Isa Almasih, dan Etik Pelampauan Diri

[ad_1]

TAHUN ini perayaan Idul Fitri dan kenaikan Isa Almasih atau Yesus Kristus jatuh pada hari yang sama,13 Mei 2021. 

 

Di media sosial viral gambar atau flyer yang menunjukkan kesamaan waktu kedua perayaan ini. 

 

Salah satunya adalah gambar seorang wanita muslim berjilbab dan seorang biarawati Katolik  berhadapan dalam posisi doa. Tentu dengan imannya masing-masing. Keduanya saling mengucapkan selamat hari raya. Tentu ini disemat oleh sang pembuat gambar. 

 

Gambar lain adalah dua laki-laki, masing-masing dengan tasbih dan rosario di tangan saling berjabat tangan. Banyak pesan yang disampaikan kedua gambar tersebut: damai, toleransi, kasih sayang, dll. NKRI memang rumah Pancasila dengan semboyan binneka tunggal ika. 

 

Seorang teman di grup Whatsapp mengaitkan “perjumpaan” kedua pesta ini dengan perjumpaan Santo Fransiskus Asisi dengan Sultan Malik Al Khamil pasa 29 Agustus 1219. Perjumpaan kedua tokoh ini mengakhiri perang agama dan menumbuhkan perdamaian.    

 

Dari berbagai sumber, bisa dilihat makna kemanusiaan yang mendalam kedua perayaan ini. Secara etimologis, kata Idul Fitri berasal kata id dan al-fitri. Id (aada-ya’uudu) berarti kembali. Kata kembali  berarti merayakan kembali pesta ini pada tahun berikutnya. Ini menjadi  sebuah kebiasaan (Al-Adah). 

 

Kata fitri berarti berbuka puasa dan suci. Idul Fiqtri berarti kembali ke fitrah. Kembali menjadi suci. Kembali ke kesejatian diri, kebersihan dan keikhlasan. Pada saat yang sama terbebas dari kesalahan, keburukan, dan kejelekan. Ini adalah buah puasa selama sebulan.

 

 Karena itu tradisi saling mengunjungi atau silaturahmi untuk memaafkan dan mohon maaf adalah pesan  yang kuat dalam perayaan Idul Fitri.

Selain itu Idul Fitri menjadi momen membagi kebahagiaan kepada sesama terutama yang kurang beruntung. 

Baca Juga:   Resah dan Gelisah Pengusaha di DKI Menanti PPKM Darurat: Ekonomi Jakarta Bisa Lumpuh

 

Ada zakat fitrah yang akan diberikan kepada kaum fakir miskin. Di sini ada persaudaraan dan solidaritas.Di Indonesia Idul Fitri disebut juga Lebaran yang berarti selesai, usai, atau habis. 

 

Yang dikaitkan dengan selesainya bulan puasa Ramadan dan datangnya hari kemenangan. Dalam budaya Jawa, Lebaran dimaknai juga dengan  empat kata berikut lebar, lebur, luber, dan labur.  

 

Lebar artinya seseorang bisa bebas dari kemaksiatan. Lebur artinya hancurnya dosa-dosa. Luber berarti melimpahnya pahala, berkah, dan rahmat dari Tuhan. 

 

Labur berarti mencat putih, membersihkan. Sementara itu untuk umat kristiani, perayaan kenaikan ke surga Yesus Kristus (Isa Almasih) dikaitkan dengan pesta paskah yang telah dirayakan 40 hari sebelumnya (4 April 2021). 

 

Dan sebelum paskah yang adalah hari kemenangan, umat Kristen menjalankan masa prapaskah atau masa puasa selama 40 hari yang dimulai dengan hari Rabu Abu. 

 

Untuk tahun ini, awal masa tobat itu jatuh pada 17 Februari 2021. Tiga hal yang ditekankanselama masa prapaskah, yaitu doa, sedekah, dan puasa. 

 

Kata paskah berasal kata pesah/pesakh (Ibrani) yang berarti melewati. Melewati atau dilewati di sini dikaitkan dengan tindakan Tuhan melalui malekatnya yang datang membunuh semua anak dan hewan sulung orang Mesir. 

 

Sedangkan pintu rumah orang Israel dilewati (pesah) oleh Tuhan. Umat Israel selanjutnya dibebaskan dari perbudakan di Mesir dan melewati padang gurun untuk sampai ke tanah terjanji. 

 

Ini dimaknai kemenangan atas penjajahan. Hal ini kita baca dalam Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Baru, paskah dikaitkan dengan pembebasan manusia dari dosa. Hal itu terjadi berkat Yesus Kristus yang menyerahkan tubuh dan darah-Nya sebagai kurban. 

Baca Juga:   Selalu Ditunjuk Jokowi Saat Indonesia Sedang Genting

 

Yesus telah melewati sengsara, wafat, dan kubur. Ia melewati kematian. Bangkit untuk hidup kembali. Dengan itu manusia melewati dosa dan maut, dan menjadi manusia baru. Ini kemenangan atas dosa. Ia kembali ke kesejatiannya  sebagai gambar dan rupa Allah sejak awal penciptaan. Selanjutnya Yesus Kristus (Isa Almasih) melewati  dunia ini, dan naik ke surga. 

 

 Ia juga akan membawa semua manusia ke sana. Namun Ia memberikan tanggung jawab atau misi kepada manusia  untuk melakukan karya keselamatan bagi dunia. Sampai kelak Ia datang kembali. 

 

Kita melihat dalam perayaan idulfitri dan kenaikan Isa Almasih terdapat nuansa spiritual dan etis. Pesan yang kuat adalah perubahan ke hal yang benar, baik, dan indah. Ini pesan transformasi: melewati,  melepaskan, dan melampaui dosa, kesalahan, kelemahan, dan kembali (id) kepada kesejatian manusia (fitrah) persis pada saat ia diciptakan Tuhan. 

 

Secara internal, ini adalah gerakan batin atau gerakan spiritual, dan secara eksternal ini adalah gerakan sosial dan etis. Inilah yang disebut sebagai etik pelampauan diri.   

 

Etik pelampuan diri berarti tranformasi atau perubahan secara personal, secara sosial, historis, ekologis, dan spiritual.  Dengan itu manusia kembali ke fitrahnya dan mengalami kenaikan atau kemenangan dalam berbagai dimensi hidupnya. Etik pelampauan diri ini dapat kita lihat dalam empat hal di bawah ini. 

 

Pertama, secara personal dan sosial, etik pelampauan diri berarti kedua pesta ini menawarkan peleburan sekat-sekat diri dan kelompok sehingga bisa bersatu dengan orang dan kelompok lain, apa pun suku, agama, ras, dan golonganya. 

Pergi ke sisi lain dari jalan lain. Mengerti yang lain dari perspektifnya sendiri. Bukan hanya dari cara pandang saya. Dalam konteks NKRI, menurut Menkopolhukam Mahfud MD, Idul Fitri berarti kembali ke prinsip persatuan dalam keberagaman dan untuk itu rekonsiliasi penting.

Baca Juga:   Madura United Nantikan Izin untuk Liga 1

Kedua, secara historis, etik pelampauan diri berarti kedua pesta ini sebuah kebiasaan sepanjang sejarah kedua agama.

Ini sebuah pesta yang bersifat retrospektif, introspektif, dan prospektif dalam sejarah manusia. Kedua pesta menekankan supaya kita bergerak dari yang kecil, lemah, sedikit, rendah, pendek menjadi besar, kuat, banyak, tinggi, dan panjang. 

Ketiga, dari sisi kemanusiaan, etika pelampauan diri berarti melewati situasi tidak manusiawi (inhuman) dan bergerak  (kembali) ke situasi manusiawi (human).  

Kemiskinan, kebodohan, kekerasan, kerusakan ekologis, keterbelakangan dalam IPTEK, moral, dan keterampilan, serta dosa adalah contoh situasi inhuman. 

Semua hal ini harus diubah. Di sini  dibutuh pengurbanan secara total demi kemanusiaan yang lebih besar. Berbuatlah baik supaya masyarakat mempunyai acuan, kriteria, standar, dan syarat tanpa batas untuk kebaikan itu sendiri. 

Karena dengan itu semua orang akan menjadi baik secara individual dan secara kolektif.  

Keempat, secara spiritual, etik pelampauan berarti melampuai situasi human ke situasi ilahi. Berarti kita begerak dari kehidupan duniawi ke hidup ilahi dan surgawi. Manusia tidak hanya memikirkan dunia tetapi juga akhirat.  

Di sini ada perjuangan. Kalau seseorang mati demi kebaikan dan keadilan, berarti dia hidup secara abadi. Tetapi jika dia hidup untuk meracuni kebaikan, keadilan, kebenaran, keindahan hidup, maka dia telah mati secara kekal. 

Hidup bukan soal umur, tetapi soal kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan yang membawa kita ke nilai dan hidup ilahi yang kekal. 

Selamat merayakan Idulfitri dan kenasikan Isa Almasih (Yesus Kristus). 




[ad_2]

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *